Uwoooo...oh Sang Penakluk Tiang
Uwoooo...oh Sang penakluk tiang
Tak pernah takut Tiang
song by : Changcuters
apasih put -_-
Lagu plesetan diatas lebih tepat jadi sontrek cerita dibawah, yang insyaoloh akan dirilis tanggal 32-13-2011.
Lupakan. Ini adalah tugas yang gue kirimkan ke pak Zolvi, sebenernya udah lama sih kebikin. Cuman gue kepengen posting aja. Jadi maklum kalo bahasanya agak pormal. Ini salah satu kejadian yang paling gue inget bareng Archer pas gue SMP. Begini esainya.
Sang Penakluk Tiang
Kejadian ini terjadi ketika saya duduk di kelas 3 SMP. Waktu itu ketika pulang sekolah saya seperti biasa pulang bersama teman teman. Persis saya ingat waktu itu adalah hari Jumat, jarang-jarang kami pulang cepat biasanya kami nongkrong dulu di depan sekolah sekitar 1 jam. Tapi itu dulu ketika SMP namanya juga mau perpisahan. Tapi tidak tahu kenapa hari itu pada buru-buru pulang, padahal biasanya solat jumat di sekolah.
Biasanya kita mencegat angkot di depan sekolah, namun karena ada teman saya Arvin yang bilang "Eh mending nyegatnya disitu aja biar misalnya udah naik kita tar bilang, muter bang". Akhirnya kita menunggu di seberang jalan, tepatnya di pertigaan menuju sebuah jalan sempit. Kami pun menyeberang ke seberang jalan untuk mencegat angkot ke arah yang berlawanan. Nah disini cerita bermulai, ketika kami sedang menuggu angkot. Pada saat menunggu, sekitar 7 meter dari kami ada banyak orang wajar jadi jika para supir angkot lebih memilih untuk mendahulukan mereka. Secara jumlah mereka lebih banyak, dan mereka lebih dekat. Ya sudah akhirnya kami terpaksa menunggu.
Biasanya kita mencegat angkot di depan sekolah, namun karena ada teman saya Arvin yang bilang "Eh mending nyegatnya disitu aja biar misalnya udah naik kita tar bilang, muter bang". Akhirnya kita menunggu di seberang jalan, tepatnya di pertigaan menuju sebuah jalan sempit. Kami pun menyeberang ke seberang jalan untuk mencegat angkot ke arah yang berlawanan. Nah disini cerita bermulai, ketika kami sedang menuggu angkot. Pada saat menunggu, sekitar 7 meter dari kami ada banyak orang wajar jadi jika para supir angkot lebih memilih untuk mendahulukan mereka. Secara jumlah mereka lebih banyak, dan mereka lebih dekat. Ya sudah akhirnya kami terpaksa menunggu.
Kebetulan hari itu bawaan saya lumayan berat, saya setiap hari membawa buku pendalaman materi dan hari itu ada pelajaran olah raga otomatis saya membawa bajunya. Saat itu saya sangat mengantuk dan memang setiap pulang sekolah selalu begitu. Kebetulan dibelakang saya ada tiang listrik atau telepon yang sudah karatan, terlalu miris untuk tiang seperti itu di komplek angkatan udara.kelihatannya. Ukurannya tidak lebih dari 5 meter kira kira. Dengan santai saya dengan santai bersandar di tiang itu. Dalam hati saya bilang "ini ngapa tiang mundur mulu ?". Saya kaget ketika tiang itu mundur mundur mundur dan akhirnya 'klontang' tiang tersebut resmi roboh.
Dan saat itu saya panik, namun bercampur tertawa. Teman-teman saya terbahak-bahak menertawakan saya. Saya panik. Teman teman saya semuanya menertawakan saya dan menyeberang ke seberang jalan tempat biasa kami menunggu angkot.Sebenernya niatnya akan ninggalin saya. Seperti yang pernah saya bilang ketika perkenalan, saya selalu menjadi bahan ceng-cengan sejak saya SD. Jadi teman saya dengan sambil tertawa ngakak meninggalkan saya ke seberang. Bahkan tiang pun ikut mengerjai saya. Tapi sebagai orang yang biasa dicengin saya memiliki senjata, muka memelas. Saya bilang dengan muka yang agak memelas campur innocent saya teriak kepada mereka "Woi bantuin ngapa !!" Dengan wajah yang kasihan melihat saya, akhirnya mereka kembali ke tempat saya menjatuhkan tiang.
Mereka membantu saya mengangkat tiang, ramai-ramai yang membantu sekitar 7 orang ketika sudah sampai lubang tempat tiang itu ditanam ternyata ada bagian dari tiang itu yang patah didalam tanah. Sia-sialah usaha kita mendirikan kembali tiang tersebut stelah tangan kami terkena karat. Setelah dilihat lihat syukurlah tiang tersebut jatuh ke arah jalan gang tersebut, bukan menimpa rumah warag. Masalahnya ini komplek TNI AU bisa berabe urusannya.
Kami menyerah, teman teman saya bilang "wayolo put, tanggung jawab lu. Bilang sono ke pak RT." Saya tidak tahu siapa ketua RT disitu.
Akhirnya saya memutuskan untuk lapor kepada warga disitu. Saya sangat takut untuk bilang kalau tiang tersebut roboh.
"Yaudah si tinggal aja ngeri gue" saya bilang dengan panik.
Teman saya yang bernama Jeyhan bilang "wayolo Put, besok dipanggil Pak Ripto lu",
Teman saya yang bernama Jeyhan bilang "wayolo Put, besok dipanggil Pak Ripto lu",
"Eh bilang Put !" Resna menimpali.
Karena panik dengan bodohnya saya percaya akan hal itu, namanya juga orang sedang panik. Pak Suripto adalah guru biologi saya, kalau sudah marah beliau sangat galak. Saya memang tergolong perusak tiga kali saya memecahkan kaca ruang kelas. Namun karena tidak ada saksi selain teman sekelas saya sendiri akhirnya tidak ada yang mengadukan saya. Dengan kata lain saya bebas.
Akhirnya, teman saya yang bernama Aldo memutuskan untuk mengantar saya ke rumah salah satu warga. Saya ragu dia akan menemani saya, namun ya sudah lah biar cepat pulang. Di depan sebuah rumah ada anak kecil, saya bilang ke dia, "dek, bapaknya mana ?" Kemudian ayahnya muncul, rasa panik pun tak terhindarkan. Untungnya Aldo masih dibelakang saya, saya lumayan tenang ada teman. Tetap saja saya keringat dingin dan gemetaran.
"Pak, tiang nya jatuh" saya bilang dengan muka setengah memelas.
"Yasudah" jawab bapak itu dengan tenang.
"Nggak kenap kenapa nih pak ?" tanya saya dengan nada yang tidak yakin.
"Ya, udah jatuh mau di apain lagi" Jawabnya kembali.
"Makasih pak," dengan muka senang dan lega saya pun berlari mengejar teman-teman saya yang mencegat angkot. Dan hal itu menjadi topik selama perjalanan. Ini lah yang menyebabkan niat pulang cepat jadi lebih lama dari biasanya. Sepertinya sekarang pun mereka belum lupa. Masih sering dibahas malah heheh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar